
Masih ingatkah kita akan sebuah kata-kata yang sering diucapkan para juru kampanye saat lagi musim kampanye dulu (tentunya bukan hanya mangga ato durian yang punya musim)? Yang kurang lebih berbunyi gini ; “ pilih partai kami, karena ‘ini’ adalah partainya wong cilik! ” padahal sich partai tersebut menurutku tergolong partai besar loch di Nusantara ini.
Awalnya aku kurang perhatian atas kalimat tersebut dan bagiku (waktu dulu) hanya sebatas jargon-jargon biasa.
Tetapi secara tak sengaja lama-lama aku tergelitik juga untuk memikirkannya lebih dalam. Hemmm … partai … dan ini adalah partainya wong cilik. Lama juga aku berfikir dan ku dapat sebuah pengertian yang agak bahkan jauh lebih nyeleneh dari sebuah kata-kata yang dianggap gak berarti.
Hasil dari pemikiranku adalah : …………………. eng … ing … eng … ! :-0
Sebuah partai … partainya wong cilik … berarti partai tersebut berbasiskan pada masyarakat kecil yang sering juga disebut wong cilik.
Pertanyaan selanjutnya yang timbul atas pengertian tersebut adalah … apakah benar partai tersebut akan serius memperjuangkan nasib wong cilik?
Jawabannya adalah iya! Dan pasti partai tersebut akan sungguh-sungguh memperjuangkan nasib wong cilik … yaitu agar nasibnya tetap menjadi wong cilik!
Karena bila masyarakat kita menjadi maju, pintar dan terentaskan dari garis kemiskinan yang hal-hal tersebut merupakan lawan dari kriteria penyebutan “wong cilik” maka partai tersebut tidak akan ada yang memilih dalam ajang pesta demokrasi (pemilu).
Hal ini sungguh sangat logis, bagaimana mungkin partai tersebut akan memperjuangkan perubahan status “wong cilik” menjadi “wong gedhe”, wong justru partai tersebut basisnya adalah wong cilik.
Apakah ada komentar atas asumsi-asumsiku di atas?
Bila ada yang menolak asumsiku tersebut, maka orang tersebut adalah pendukung dari partainya wong cilik.
Maka saran saya bagi anda semua, pilihlah calon anggota legislatif dan presiden dari partainya “wong gedhe”, apapun status anda biar wong cilik ataupun wong gedhe, partai tersebut akan berusaha memperjuangkan nasib anda menjadi atau tetap menjadi wong gedhe karena itu adalah basis dari partai tersebut. Klo’ tidak ada wong gedhe maka partai tersebut akan mati.
Klo’ ada yang tanya aku ini mendukung partai yang mana, akan ku jawab aku akan mendukung partai yang jujur … dan kalaupun partai tersebut (orang-orangnya -red) melakukan korupsi akan aku anggap sebagai kekhilafan, pokoknya jujur dulu. Soalnya masyarakat kita sulit sich untuk jujur, maunya pemerintahan bebas korupsi tapi justru kita sebagai masyarakat malah mendorong pemerintah untuk korupsi. Ada tanda “???????”
Contoh soal :
Pesantren, LSM, Lembaga Sekolah, Organisasi Wartawan dll, mengajukan proposal kegiatan dengan harapan untuk mendapat tambahan dana dari Kantor Camat atau Kantor Kelurahan. Hal tersebut bisa menimbulkan korupsi, baik yang meminta maupun yang diminta dana, kenapa ..? jawabannya adalah Kantor Camat dan Kantor Kelurahan tidak berhak untuk memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada siapapun dan berapapun jumlahnya, ini sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, lebih jauh alasannya silahkan pelajari Permendagri tersebut klo’ anda nggak mau dianggap wong cilik (tapi sich aku ragu … kebayakan masyarakat kita lebih senang dianggap sebagai wong cilik … mungkin khawatir gak diberi BLT ato takut bayar pajak kali ya).

misi pertama saya adalah kejujuran !!! dari kata ke-jujur dan an artinya j u j u r. kalo korupsi berarti kebutuhan. lha wong bayarane ngepas iku rip
Komentar oleh doni Rip — Juni 7, 2009 @ 1:16 am